Bandar Lampung, 20 Mei 2026 — Universitas Bandar Lampung (UBL) melalui UBL SDGs Center sukses menyelenggarakan The 4th International Symposium on Global Collaboration for Sustainability (ISGCS) 2026 bertema “Navigating Global Climate Challenges through Multi-Stakeholder Partnership” di Holiday Inn Lampung Bukit Randu, Bandar Lampung.

Kegiatan ini menghadirkan pembicara internasional dari Germany, Japan, Australia, dan Republic of Korea, serta perwakilan nasional dari BAPPENAS. Pada sesi pagi, para narasumber membagikan berbagai perspektif terkait pembangunan berkelanjutan, tata kelola kolaboratif, ketahanan iklim, transisi energi, hingga penguatan kemitraan lintas sektor dalam menghadapi tantangan global. Siang harinya, kegiatan dilanjutkan dengan Paper Presenter untuk mendiskusikan inovasi, riset, dan praktik baik terkait perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Ketua Pelaksana, M. Denu Poyo, menyampaikan bahwa simposium ini merupakan bagian dari implementasi SDGs SSTC Project Phase II oleh GIZ Indonesia yang terintegrasi dengan Inisiatif KEM11LAU di Lampung. Dalam pemaparannya, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga wadah untuk memperkuat kolaborasi dan membangun komitmen bersama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim.
Simposium ini juga mencerminkan implementasi berkelanjutan dalam Kemitraan Multi-Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Partnership/MSP) dalam Inisiatif KEM11LAU di Kelurahan Pesawahan. Melalui kolaborasi antara akademisi, lembaga pemerintah, masyarakat, media, kelompok pemuda, dan sektor swasta, berbagai inisiatif telah dijalankan, mulai dari pemetaan partisipatif, Focus Group Discussion (FGD), edukasi lingkungan, inisiatif sanitasi, hingga penyusunan rencana mitigasi banjir dan aksi kolaboratif berbasis masyarakat, ujar Denu
Sebagai tindak lanjut, MSP di Kelurahan Pesawahan akan terus diperkuat melalui sejumlah rencana aksi kolaboratif yang berfokus pada pembangunan kawasan tangguh iklim dan berkelanjutan. Rencana prioritas yang akan dikembangkan meliputi penguatan kapasitas masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi banjir, pengelolaan sanitasi dan lingkungan berbasis komunitas, peningkatan partisipasi masyarakat dalam rencana aksi, penyusunan roadmap pembangunan kolaboratif desa, serta penguatan koordinasi lintas sektor dalam mendukung tata kelola pembangunan yang inklusif dan partisipatif.
Dari pihak GIZ Indonesia, Zulazmi dalam sambutannya menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi dunia saat ini. Dampaknya dirasakan langsung melalui terganggunya mata pencaharian masyarakat, meningkatnya tekanan terhadap layanan publik, dan kerentanan sosial yang semakin tinggi, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan.
“Permasalahan iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, pendekatan melalui kemitraan multi-pemangku kepentingan menjadi sangat relevan untuk membangun solusi bersama yang berkelanjutan,” ujar Zulazmi.
Rektor UBL, Prof. M. Yusuf S. Barusman, turut menyampaikan bahwa perguruan tinggi harus menjadi katalisator inovasi dan jembatan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Para narasumber dari berbagai negara menyampaikan berbagai perspektif terkait perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Anh Cao, Assistant Professor dari University of Tokyo (Japan), memaparkan materi mengenai public support for flood adaptation policies of population at risk in Southeast Asia. Mohammad Sidiq, Senior Advisor FORCLIME GIZ Indonesia (Germany), membahas praktik baik inisiatif perubahan iklim di Indonesia serta pembelajaran dari kolaborasi tata kelola iklim. Jannata Giwangkara dari Climateworks Centre (Australia) memaparkan isu transisi energi, dekarbonisasi industri, mobilitas berkelanjutan, energi terbarukan, mitigasi perubahan iklim, hingga pasar karbon. Daisy Park, Adjunct Professor of Chosun University (Republic of Korea), membawakan materi tentang integrasi pengetahuan ekologis dalam kemitraan multi-pihak untuk ketahanan iklim.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi panel discussion yang menghadirkan berbagai perspektif dari praktisi dan organisasi terkait isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Provinsi Lampung menyoroti pentingnya program kolaboratif yang adaptif sesuai karakteristik wilayah melalui implementasi program Kemilau di beberapa daerah di Lampung. Yayasan Fatimah Az Zahra Lampung menekankan pentingnya membangun kebiasaan ramah lingkungan sebagai bagian dari solusi krisis iklim. PT. Ethos Sinergi Indonesia membahas pendekatan pariwisata berkelanjutan yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan sebagai daya tarik wisata. Sementara itu, Youth Sanitation Concern Indonesia menyoroti pentingnya perencanaan partisipatif dengan melibatkan masyarakat dalam program keberlanjutan. Diskusi juga menghadirkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung yang membahas peran media dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap isu perubahan iklim.
Sejalan dengan Outcome 1 dan Output 1.1.3 Kerangka Logis MSP KEM11LAU, simposium ini mendukung penguatan kolaborasi multi-pemangku kepentingan dan komitmen kelembagaan dalam implementasi MSP untuk pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi, inovasi, dan komitmen bersama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim.