Menu Tutup

SDGs Center Universitas Bandar Lampung (UBL) bersama Youth Sanitation Concern (YSC) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Fase II dengan tema “Pemetaan Kawasan dan Rencana Aksi Warga” di Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan.

Bandar Lampung, 21 Februari 2026 — SDGs Center Universitas Bandar Lampung (UBL) bersama Youth Sanitation Concern (YSC) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Fase II bersama warga RT 46 Kelurahan Pesawahan. Kegiatan yang berlangsung di area pelabuhan setempat ini bertujuan untuk memetakan kondisi eksisting sekaligus menyusun rencana aksi prioritas berbasis kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh tim SDGs Center UBL, tim YSC, perwakilan Ethos Organizer, Lentera Foundation, PSMO UBL, serta warga RT 46. Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan mengangkat sejumlah isu utama, mulai dari sanitasi, banjir, pengembangan ekonomi, hingga pengelolaan lingkungan.

Fritz Akhmad Nuzir selaku Direktur SDGs Center UBL menyampaikan bahwa pemetaan wilayah ini difokuskan untuk memberikan kejelasan terkait lokasi tempat tinggal warga, batas-batas wilayah, serta titik-titik prioritas yang menjadi perhatian bersama. Melalui pemetaan ini, diharapkan masyarakat memiliki gambaran yang lebih terstruktur mengenai kondisi lingkungan serta arah perencanaan ke depan.

Sementara itu, Iffah Rachmi, selaku Direktur Eksekutif Youth Sanitation Concern Indonesia sekaligus fasilitator kegiatan, menegaskan bahwa FGD ini merupakan bagian dari proses pendampingan partisipatif yang menempatkan warga sebagai aktor utama dalam perencanaan pembangunan. Ia menyampaikan bahwa melalui pemetaan kawasan dan penyusunan rencana aksi bersama, masyarakat tidak hanya mengidentifikasi persoalan, tetapi juga merumuskan solusi yang realistis dan berkelanjutan.

Dalam diskusi tersebut, warga menyoroti persoalan sanitasi, kerusakan MCK, sistem drainase, serta banjir rob yang terjadi secara rutin setiap bulan. Warga juga menyampaikan belum adanya tempat evakuasi dan pentingnya perbaikan drainase guna mengurangi dampak banjir.

Dari pihak PSMO UBL, Riza Muhida memaparkan gagasan pengembangan alat pendeteksi banjir rob yang dapat memantau kenaikan air laut dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat, sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga terhadap risiko banjir.

Direktur Ethos Sinergi Indonesia, M. Syaifullah, turut menyampaikan bahwa kawasan Gudang Agen memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Ia menambahkan bahwa berbagai keterbatasan dan kekurangan yang ada justru dapat diolah menjadi daya tarik tersendiri, guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Melalui FGD Fase II ini, menghasilkan sejumlah prioritas program, yakni penataan kampung, penghijauan, serta perbaikan drainase sebagai langkah awal menuju kampung yang lebih tangguh, tertata, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *