
Bandar Lampung, 24 Januari 2026 — SDGs Center Universitas Bandar Lampung (UBL) bersama Youth Sanitation Concern (YSC) menggelar kegiatan Pemetaan Partisipatif Wilayah di Lingkungan (LK) 3, Kelurahan Pesawahan, sebagai upaya memperkuat pemahaman bersama terhadap persoalan banjir yang kerap melanda kawasan tersebut dan bagian dari implementasi Rencana Aksi MSP KEM11LAU di Bandar Lampung. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan RT dan RW setempat serta melibatkan partisipasi aktif warga dalam memetakan titik rawan genangan, aliran air, serta kondisi drainase lingkungan.
Masyarakat Lingkungan (LK) 3 Kelurahan Pesawahan menyambut antusias kegiatan ini karena menjadi ruang dialog terbuka bagi warga untuk menyampaikan pengalaman langsung terkait dampak banjir, mulai dari terganggunya aktivitas harian, kerusakan rumah, hingga persoalan kesehatan lingkungan. Melalui proses pemetaan, warga bersama fasilitator mengidentifikasi faktor penyebab banjir, seperti sedimentasi saluran, pengelolaan sampah, perubahan tata guna lahan, serta keterbatasan infrastruktur drainase.


Hasil pemetaan partisipatif ini akan menjadi dasar dalam penyusunan rencana penanganan banjir yang lebih terarah dan berbasis kondisi nyata di lapangan. Selain isu banjir, pemetaan juga mencakup aspek sanitasi, pengelolaan sampah, serta penguatan kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari strategi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pembangunan lingkungan yang tangguh terhadap risiko bencana, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui pendekatan partisipatif, warga tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi turut berperan sebagai subjek utama dalam merumuskan solusi, menentukan prioritas, dan mengawal implementasi program penataan lingkungan.
Fritz Akhmad Nuzir, selaku Direktur SDGs Center UBL, menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan komitmen bersama dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 6 tentang air bersih dan sanitasi, Tujuan 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta Tujuan 13 tentang penanganan perubahan iklim. Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat dalam memahami dan mengelola risiko banjir merupakan kunci dalam membangun kawasan permukiman yang lebih aman dan resilien.
Sementara itu, Iffah Rachmi, perwakilan dari Youth Sanitation Concern (YSC), menekankan pentingnya keterlibatan aktif warga dalam proses pembelajaran bersama melalui pemetaan partisipatif. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengumpulan data, tetapi juga sebagai media refleksi kolektif agar masyarakat semakin sadar terhadap keterkaitan antara perilaku sehari-hari, kondisi lingkungan, dan risiko banjir yang dihadapi.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, SDGs Center Universitas Bandar Lampung bersama Youth Sanitation Concern (YSC) berharap kolaborasi antara akademisi, komunitas, pemerintah, swasta, media, dan masyarakat dapat terus diperkuat dalam merumuskan solusi jangka panjang. Kolaborasi ini diharapkan mampu mewujudkan lingkungan permukiman yang lebih sehat, adaptif terhadap banjir, serta berkelanjutan bagi generasi mendatang.